Indahnya Saat Kita Bersama

Indahnya Saat Kita Bersama
Indahnya Saat Kita Bersama

Jumat, 12 Agustus 2011

“Maka Bersabarlah Kamu dengan Sabar yang Baik.” (Al-Ma’arid: 5)

SABAR adalah benteng kokoh, yang tidak mudah di serbu pasukan, dan tidak mudah dimasuki musuh. Sabar adalah tameng kuat yang tidak akan bisa ditembus anak panah dan tidak akan rusak dilempari batu-batu.
Sabar adalah semangat menghancurkan keputusasaan, melawan kegagalan, dan menjungkalkan kepelikan urusan.
Sabar adalah memegang bara, menutupi luka, menyembunyikan musibah, meredam hawa nafsu. Sabar adalah bekal yang tidak akan pernah habis, pembantu yang tidak mengeluh, dan sahabat yang tak akan pernah jemu.
Tidaklah kemanjaan tabiat bisa di taklukkan kecuali dengan kesabaran, dan tidaklah luka jiwa bisa di sembuhkan kecuali lewat kesabaran. Sesungguhnya kesabaran adalah pelipur kesedihan, penyejuk lara, ruh bagi yang keletihan, hiburan bagi yang dilanda musibah.
Jika ada sabar bersamamu, maka tidaklah berarti bagimu jumlah logistik musuh. Tidak pula api dan senjatanya. Dengan sabar, masalah besar akan teratasi sambil tertawa, dan pertarungan besar akan di menangi dengan senyuman.
“Musuhku mengingkari dan dia tak tahu
Diriku adalah terhormat dan peristiwa zaman melemah
Musuhku melihatku bagaimana dia bodohnya
Dan kuperlihatkan kesabaran bagaimana adanya.
Barangsiapa yang hatinya digempur krisis, maka obatnya adalah sabar. Barangsiapa yang perih karena bencana, obatnya adalah sabar. Ujian datang bergelombang-bergelombang bersusun-susun dan bergerak kencang, sabar yang akan menghapuskannya. Para pendengki, para pencaci berkelompot mengepung orang yang kena musibah, kesabaranlah yang akan menelan semua yang mereka lakukan.
Saat tidak ada lagi karib yang menghibur, kata tak ada lagi teman yang menemani, tidak juga sahabat yang simpati, maka kesabaran mengganti semuanya. Kesabaran mampu berbicara atas nama semua. Kesabaran mampu memenuhi kewajiban sahabat dan kekerabatan. Kesabaran yang indah tidak ada keluh kesah di dalamnya. Pengingkaran tidak menyobek-nyobek wajah indahnya. Mahkotanya tak retak karena adanya kebencian.
Kesabaran yang indah siap menerima semua qadha’ (ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala), Kesabaran dengan tenang akan menerima semua akibat. Kesabaran akan selalu siap menyambut jalan keluar dan siap menanti pahala.
Mungkin saja ada kesabaran, namun dia bukan yang baik, sehingga pemiliknya tidak mampu menyembunyikan keluhan-keluhan, tidak pula kuat merahasiakan pembicaraan, dan tidak mampu meredam kecaman.
Kesabaran yang tidak baik hanyalah sebuah kepura-puraan. Yaitu, kesabaran yang dibarengi dengan erangan, ketangguhan yang disertai kepura-puraan dan keindahan di dalamnya.
Sabar yang baik adalah kemampuan memanggul musibah dengan diam, menerima sergapan masalah dengan tenang, menerima hantaman dengan ridha.
Para pencaci tak mendapatkan petunjuk jalan untuk menaklukkan orang yang terkena musibah karena kesabarannya. Para pendeki tidak melihat dampak negatif akibat ujian yang menimpa orang-orang sabar ketika mendapat bencana, sehingga mereka tidak bisa menari kegirangan.
Di antara yang mampu membangun kesabaran yang baik adalah keyakinan bahwa usaha apapun tidak mungkin dapat membendung takdir, dan kebaikan akibat adalah bagi seseorang yang menaruh harap pahala dan bersabar. Juga dengan cara melihat yang tersisa pada jiwa, anak, kedua orangtua dan harta. Dengan melihat kemah-kemah mereka yang mendapat bencana, atau menyaksikan lembah-lembah orang-orang yang ditimpa musibah. Sebab disetiap lembah ada Bani Said (kiasan untuk orang-orang malang). Tak ada satu perkarapun lepas dari musibah. Pada setiap kegembiraan akan ada kesedihan, dan dalam setiap kegembiraan  akan ada kesedihan, dan dalam setiap keriangan ada pelajaran. Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
ﻭ ﻠﻘﺩ ﺃ ﻫﻠﮑﻨﺎ ﻤﺎ ﺤﻭ ﻠﮑﻡ ﻤﻥ ﺍ ﻠﻘﺭ ﻯ ﴿۲۷﴾ [ﺍ ﻷ ﺤﻘﺎ ﻑ : ۲۷]
“Dan sesungguhnya kami telah membinasakah negeri-negeri di sekitarmu.”
(Al-Ahqaf : 27)
Barangsiapa yang melihat daftar khalifah sejak awalnya, maka pasti dia akan melihat bencana datang berturut-turut, musibah-musibah datang bertubi-tubi. Ada yang dibunuh, ada yang ditipu, ada yang diturunkan. Antara yang berteriak ada pula yang mengerang, ada yang binasa, ada pula tenggelam, terbakar dan dipencilkan. Negeri-negeri bubar, raja-raja dihinakan, istana-istana runtuh, tentara-tentara di hancurkan, zaman-zaman lewat, kebun-kebun layu, rumah-rumah menjadi kosong dan darah hilang sirna, Firman-nya, “Adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar.” (Maryam : 98).
Seorang menteri yang terkenal dan memiliki kebesaran dia dipecat, kemudian diasingkan, diadili kemudian dipenjarakan setelah itu diputuskan untuk dibunuh. Saat orang-orang membawanya pergi ke tempat pemancungan, dia malah tersenyum dan menyenandungkan sebuah syair :
“Barangsiapa yang menanyakan tentangnya dengan cacian dan barangsiapa yang mencaciku dan tidak menanyakanku ujian telah menampakkan diriku sebagai anak merdeka sabar atas huru hara semua guncanagan.”
Kedudukan sabar dalam iman sama dengan posisi kepala bagi jasad. Maka, barang siapa yang tidak ada kepalanya sama halnya dia tidak memiliki jasad. Barang siapa yang tida memiliki kesabaran, maka sama artinya dia tidak memiliki keimanan.
Penyair di bawah ini di kejutkan oleh kematian tujuh anaknya dalam waktu bersamaan. Lalu dia menikamkan benda tajam dengan tusukan yang lebar. Namun kembali dia memperbaiki diri dengan bersabar dan melangkah pada kebenaran. Kemudian bersenandung kecil :
“Sikap kokohku bagi para pencaci itu agar kuperlihatkan bahwa aku tak pernah gentar dengan kebimbangan zaman.”
ini adalah sebuah sikap kokoh, keteguhan hati, sikap tabah, penentangan dan ketegaran di depan manusia-manusia kejam. Penampakan sikap indah dan kegembiraan dengan semua yang di takdirkan, ridha dengan qadha’, menyerahkan pada Yang Maha Agung dan Bijaksana.
Ketaatan pasti membutuhkan pada kesabaran agar dia menjadi sempurna dan berada pada puncak kebaikan. Dengan kesabaran, ketaatan akan bisa dilakukan dengan ikhlas dengan skala besar. Akan tampak kebenarannya, gambar tanpa kandungan apa-apa, dan lafazh-lafazh tak bermakna.
Maksiat tidak bisa dilawan dan di bendung kecuali dengan kesabaran, agar dia tidak melemahkan jiwa, mematikan hati dan menjatuhkan dalam musibah.
Dengan kesabaran maksiat tidak akan menemukan jalan masuk kedalam hati. Tak akan ada petunjuk untuk menjadikan karakter menjadi lemah. Bahkan maksiat itu akan kembali ketempat dia datang semula. Akan hancurlah setan yang menggodanya. Iblis yang bandel akan babak belur. Sebaliknya dengan ketidakadaan sabar, maka  jiwa akan senantiasa di lubung kesalahan, ruh akan belepotan dengan roda-roda dosa. Sebab jiwa telah di hancurkan dalam peperangan, dan dia ditawan di medan laga.
Musibah itu tidak bisa dihadapi kecuali dengan kesabaran agar pijakan menjadi ringan dan bencana menjadi terasa ringan, jika kesabaran tidak ada, maka satu musibah akan berubah menjadi dua, jika sabar tidak ada, maka jiwa akan berguncang sekeras-kerasnya dan pemberi ingat akan berteriak apa yang terjadi?
Jika sabar telah tercapai, maka pahala akan digapai, sebutan akan cemerlang dan hati akan lapan. Takkala kesabaran bersama dengan musibah, maka kerugian akan mengubah menjadi keuntungan, hutang-hutang akan menjadi harta rampasan, kesedihan berubah menjadi kebahagiaan.
Barang siapa yang menginginkan kehidupan tanpa kesabaran, maka sesungguhnya dia telah menginginkan kehidupan di luar tabiat. Dia telah melihat kehidupan bukan dalam gambar sebenarnya. Dia berada di bawah khayal dan dia berada di bawah misal-misal, dia lari dari bangun menuju tidur, dari realitas menuju mimpi-mimpi.
Barangsiapa yang memiliki kesabaran, maka tinggalkan semua omongan manusia karena kemenangan telah tiba. Sebab kemenangan itu senantiasa akan bersama dengan kesabaran. Jalan keluar telah dekat, sebab jalan kelaur itu selalu berbarengan dengan kesulitan. Kemudian telah demikian dekat, sebab bersama kesulitan akan selau ada kemudahan.
Dalam al-Qur’an sabar di sebutkan dalam beberapa bentuk. Kadang dalam bentuk perintah dan pujian atasnya, pujian atas orang-orang sabar, penyebutkan pahala mereka disisi Tuhan. Menyanjung pekerjaan baik mereka, penyebutan salam para malaikat atas mereka, shalawat dan rahmat Allah atas mereka, pemaparan sifat-sifat mereka adalah orang-orang yang memiliki nasib yang agung, mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah. Pekerjaan mereka adalah pekerjaan utama, maka selamat atas mereka.
Orang yang sabar, dengan kesabarannya hidup dalam kenikmatan (na’im) dan orang yang tidak sabar, akan hidup laksana di neraka (jahim). Penjara bagi orang yang sabar adalah tameng. Bencananya adalah karunia, ujiannya adalah anugerah, kefakiran adalah kekayaan, dan sakitnya adalah afiyah.
Adam sabar meninggalkan negeri pertamanya di surga. Nuh sabar atas kehilangan anaknya saat banjir topan. Ibrahim sabar saat di perintahkan untuk menyembelih anak kesayangannya. Ya’kub bersabar saat berpisah dengan Yusuf. Musa sabar atas semua kedzaliman Fir’aun. Dawud sabar atas pahitnya penyesalan. Sulaiman sabar atas fitnah dunia. Isa sabar atas perihnya kefakiran. Sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau sabar atas semua yang di sebutkan. Beliau telah mengalami seluruhnya. Telah mengalami dan mencapai seluruhnya. Beliau sabar saat harus meninggalkan negerinya, meninggalkan kenikmatan masa kanak-kanak dan kenikmatan masa remaja. Beliau tinggalkan keluarga dan kerabat, rumah dan harta benda. Beliau sabar ketika kehilangan putera-puterinya. Maka, mengalirlah ruh mereka di depannya. Jiwa mereka gemeretakan di depan para pemandangnya.
Beliau sabar atas pahitnya derita. Beliau disakiti dalam manhaj dan negeri, dalam nama dan moral, dalam risalah dan isteri.
Beliau sabar atas celaan musuh, pengingkaran teman, kedurhakaan sahabat, kebencian para penghasut, dengan orang-orang yang iri, konspirasi para musuh, komplotan pasukan, ocehan para pelaku kebatialn, sedikitnya penolong. Beliau sabar atas sempitnya hidup, keringnya kefakiran, pedihnya kebutuhan, sedikitnya orang berpengaruh. Pacekliknya nafkah, sulitnya kehidupan, perihnya rasa lapar dan getirnya kemiskinan.
Beliau sabar atas menangnya musuh, terbunuhnya kerabat, ditawannya kekasih, diusirnya para sahabat, disiksanya para pengikut, dan luka di badan. Beliau sabar atas ancaman dan teror, guncangan serbuan licik, dan gonjang-ganjing perang.
Beliau sabar atas kesombongan orang-orang kaya, tingkah polah para pembesar, buruk akhlak para provokator, moral bejad orang-orang Badui, sombongnya orang-orang bodoh dan hinanya sopan santun manusia-manusia kasar.
Beliau sabar atas penghianatan orang-orang Yahudi, konspirasi orang-orang munafik, pertarungan dengan orang-orang yang di ajak kedalam Islam.
Baliau sabar atas gembiranya penaklukan, kegembiraan kemenangan, melimpahnya dunia, takluknya para raja, menyerahnya para penguasa zalim dan masuknya manusia kedalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Beliau sabar atas melihat harta simpanan dikeluarkan dari lumbung-lumbung manusia dan beliau tidak mengambil walau satu qithmir.
Beliau sabar saat  mengiring rombongan onta dan sapi serta kambing yang bagaikan anak bukit. Lalu beliau distribusikan untuk mereka yang baru masuk Islam saat kota Makkah ditaklukkan. Beliau tidak mengambil satu pun dari onta, sapi atau domba tersebut. Beliau sabar untuk senantiasa diam dirumah yang terbuat dari tanah, hanya dengan makan gandum, tidur di atas tikar, menunggu keledai dan memakai kain wol keras. 
Ayahnya meninggal dan belaiu belum sempat melihatnya. Ibundanya meninggal saat masa menyusunya belum sempurna. Kakeknya meninggalkan dunia saat beliau belum tuntas dalam didikannya. Pamannya pergi saat perjuangan sedang bergejolak. Khadijah meninggalkan beliau di Hari Kesedihan. Anaknya meninggal saat cintanya tengah berada di puncak. Aisyah di tuduh serong saat cintanya sedang membara. Hamzah terbunuh saat pertempuran sedang berkecamuk.
Beliau merasa tenang di Madinah, namun orang-orang munafik tak rela dengan ketenangannya. Beliau memperoleh kemenangan pada saat Perang Badar namun dengan cepat kekalahan di terima di perang Uhud. Wajahnya cemerlang laksana bulan purnama, namun tiba-tiba wajah itu di bidik dengan anak panah. Giginya bersinar laksana jejeran kain bergaris lalu dia retakkan gerahamnya dalam perang. Ontanya mampu melampui onta-onta lainnya. Namun tiba-tiba seorang Badui mampu melampuinya.
Itu semua di tujukan agar semua pahalanya tetap abadi di akhirat dengan sempurna, usahanya di apresiasikan dengan syukur di depan Tuhannya. Agar beliau bisa menemui Tuhannya, pelindungnya dan sesembahnya dengan gembira. Agar semua pahalanya bersatu. Baik yang di awal maupun di akhir, yang dulu dan kini, di tempat yang di senangi, di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
Beliau berhak untuk itu karena beliau sabar. Beliau berhak untuk itu karena beliau sabar. Beliau mendapatkan kedekatan dengan Tuhan, mendapatkan kemuliaan, wasilah, fadhilah (keutamaan), posisi mulia karena kesabarannya.           Beliau memiliki maqam (kedudukan) yang terpuji, taman yang mengalir, panji yang di ikat. Semuanya karena beliau sabar.
Beliau memiliki syafaat, kemuliaan, kedekatan, dan kehormatan, karena belalu sabar.
Mereka mendustakannya, mencercanya, mencela, dan menyiksanya. Maka turunlah firman-nya.
 ﺍ ﺼﺒﺭ ﻋﻠﻰ ﻤﺎ ﻴﻘﻭ ﻠﻭ ﻥ ﴿۱۷﴾ [ﺹ : ۱۷]  
“Bersabarlah atas apa yang mereka katakan.”  (Shaad : 17)
Mereka memeranginya, mengancamnya, mengusirnya, dan mengucilkannya, maka turunlah firman-nya, “Bersabarlah (Hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (An-Nahl : 127).
Mereka menyingkirkan, berpaling padanya, mencegal jalannya, dan menghadang di jalannya. maka turunlah firman-nya, “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (Al-Ma’rij : 5 ).
Beliau demikian lama menunggu pertolongan Allah. Musuhnya demikiam banyak, ujian semakin bertumpuk. maka turunlah firman-nya, “ Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah benar.” (Ar-Rum : 60).
Kaumnya menolak keberadaannya dengan penolakan yang kasar, jawaban paling kotor, ucapan tak senonoh dan dengan sikap tak bersahabat, lalu turunlah firman-nya, “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul.” (Al-Ahqaf : 35).
Beliau sabar dengan kesabaran yang indah dalam semua tingkatan ibadah. Beliau sabar dalam ridha dan  marahnya, dalam damai dan perangnya, dalam kaya dan miskinnya. Maka jadilah beliau imam bagi orang-orang sabar dan teladan bagi orang-orang bersyukur.
Ya Allah. Kokohkan kami dalam sunnahnya. Jalankan kami di belakang jejaknya, dan tolonglah dakwahnya dengan tangan kami.[*].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar